Sampai dirumah, kami disambut hangat oleh Ibunda Mas Andi dan Lukman. Langsung dibuatkan teh hangat beserta camilan pengganjal perut. Belum sempat saya minum teh, eh, datanglah beberapa piring penuh lauk pauk untuk makan siang.
Ada bebera jalur untuk menuju Gunung Prau, yaitu Patak Banteng, Kali Lembu, Dwarawati dan Dieng. Kata Sang Tuan Rumah, jalur Dieng lah yg paling santai. Saya mah 'manut' (baca : patuh), hayuk aja.
Tiket Gunung Prau
Tiket masuknya bisa dibilang ramah di kocek, cukup mengeluarkan Rp 10.000/hari untuk wisatawan lokal.
Pos 1 - Gemekan
Bukan ini sih pos nya, tapi anggap saja yg ini ya Walkers. Pas perjalanan turun gak ada yg ingetin foto di pos 1, saya juga main nlonyor aja 😢
Maapkan, itu ekspresi wajah saya najong banget, bikin sawan. Makanya saya kasih sticker 😄
Pukul 22.30 WIB kami sampai di Camp Area, mendirikan tenda, lalu membuat kopi. Tapi yg bikin kopi malah ngacir ke pulau kapuk. Padahal sudah disiapkan tiga cangkir kopi, nah yg masih on cuma Kemprot dan Ihya. Saya sendiri mau tak mau harus absen menikmati hangatnya kopi karena ada 'tamu' di tengah perjalanan. My God! 😥
3 jam perjalanan yg kami tempuh ini sungguh santai asoy geboy. Kami banyak beristirahat entah untuk melepas lelah, sebat, atau sekedar menikmati siluet Sindoro Sumbing yg gagah. Hal ini yg bikin saya lebih kedinginan. Kalau mereka berhenti, mereka bisa sebat, nah saya? Sebat juga sih, tapi sebatang kara, haha, #alay.
Saat kita berhenti bergerak, suhu tubuh mulai menurun. Hal ini menyebabkan tubuh terasa lebih dingin dan malas untuk bergerak. SARAN SAYA : berhenti secukupnya 👯
Saya trauma waktu di Jambangan, Semeru, saya berhenti lama, hingga tak sadar saya tertidur sekitar 5-10 menit. Entah saya salah posisi, salah tumpuan, atau apa ya, ketika saya bangun, lutut kiri saya sakitnya minta ampun. Sejak saat itu, saya hampir gak pernah berhenti saat berjalan kecuali mereka yg minta berhenti, hehe.
Jam menunjukkan pukul 23.45 WIB, saya masuk tenda, sudah ngantuk. Jam 03.00 WIB saya terbangun, mencoba melongok ke luar tenda. Allahu akbar! Sindoro Sumbing terlihat gagah bersama sinar bulan dan ribuan bintang yg menemani. Jangan tanya bagaimana dinginnya, karena ini DINGIN BANGET!. Niat saya menciut untuk keluar dari tenda, 'nanti aja pas sunrise' batin saya. Jangankan keluar tenda, buka resleting tenda saja tangan saya gemetar karena saking dinginnya.
Jam 05.15 WIB saya bangun lagi, mencoba melihat pemandangan dari luar tenda. Garis vertikal berwarna orens pekat tampak indah mengitari sisi-sisi Sindoro Sumbing. Saya membangunkan Abang dan Kemprot, alih-alih keluar tenda, mereka hanya sedikit mengintip lalu tidur lagi. Hawa dingin mengurungkan niat saya untuk beranjak. Sungguh, ini suhu paling dingin yg pernah saya rasakan!
Time for pictures!
Abang - Saya - Kemprot - Ihya - Anis - Lukman - Slamet - Dayat - Kiki - Mas Andi |
Keluarga Minus |
Lihat mereka itu macam lihat Store Eiger berjalan 😁 |
And the best picture of this trip is...
Terima kasih Gunung Prau..
Mau tau behind the scene nya? baca disini
baca disini untuk Kuliner khas Pekalongan
Video Perjalanan ke Gunung Prau via Dieng
gunung prau via dieng , gunung prau , dieng , wonosobo , pegunungan dieng , sunrise gunung prau , explore dieng , wisata dieng , jalur gunung dieng , jalur patak banteng , jalur kali lembu , jalur dwarawati , peta gunung prau , kontak person gunung prau , nomor telepon gunung prau
0 comments:
Post a Comment