12 November 2017

Hai Walkers! Kali ini aku mau review shower gel alias sabun mandi yang wanginya tuh endes cucok meong banget! Namanya ORIGINAL SOURCE.


Jadi gini, hari Minggu kemarin temenku wisuda di Hotel Aria Gajayana, setelah wisuda selesai, aku sempetin mampir ke Mall Olympic Garden (MOG) yang letaknya tuh di samping hotel ini.


Muter kesana - muter kesini, akhirnya belok ke Guardian karena lihat bejibun diskon yang ada, haha. Pandangan mataku langsung tertuju di etalase depan sendiri. Tambah Rp 1.000,- bisa dapat 2 barang. Woow, terpancing buat belanja nih!


Pertama kali cium wanginya, ya ampuuuun, langsung jatuh cintaa! Langsung angkut masuk keranjang belanja! Wanginya manis gitu. Betewe, aku suka banget wangi manis-manis gitu. Pas aku baca kemasannya tertulis 82 Sunrises Vanilla & Raspberry Original Source. Aku agak bingung, 'Sabun apa sih?' Aku juga belum pernah denger merk ini. Setelah tanya Google, ternyata sabun ini buatan Australia. Hmm, dari kemasannya aja udah ketahuan kalau produk import ya?

"Original Source is made from natural plant extract and authentic fragrances found from all aspects of nature. We believe in respecting the world we live in and that we should live in it loudly and proudly. We innovate. We invigorate. We intensify your shower."


Original Source mengklaim bahwa sabun ini terbuat dari 100% bahan alami. Botol kemasan juga terbuat dari bahan yang bisa didaur ulang. Intinya mereka itu ramah lingkungan gitu deh 😊


PRICE
Aku beli dengan harga Rp 43.570,-/botol terus ada promo tambah Rp 1.000,- dapat 2 botol. Isinya 250 ml. Lumayan kan pas promo 😁


VARIANT
Varian dari sabun Original Source cukup banyak, seperti Lemon & Lime, Mango, Mint, Strawberry, dll. Sempet mencium aroma Mango = wanginya emang mirip banget sama buah mangga. Warnanya pun mirip kayak jus mangga. Nah pas mencium yang Mint = astaga dragon, hidung udah kayak di tiban 1 ton daun mint gitu, menyengat!




REVIEW
Udah seminggu pakai sabun ini, hasil akhirnya bersih licin gitu. Tau kan, jadi setelah kita mengeringkan tubuh dengan handuk, masih terasa licin di kulit. Aku sarankan pakai shower puff saat mandi agar busanya bisa lebih banyak. Soalnya tanpa shower puff, busa sabun ini sedikit sekali. Yang paling penting tuh wanginya sabun ini. Duuuh, pengen aku makan deh. Oh ya, produk ini juga ada lotion Vanilla & Raspberry juga loh. Wanginya juga enak sampe pingin nangis jadinya.


CONCLUSION
+ Lembab alias gak bikin kering di kulit.
+ Wanginya enak banget.
- Busa sedikit.

And next, pingin coba Lotion Original Source Vanilla & Raspberry. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat 😊


10 November 2017

Hai Walkers! Masih bersambung dengan trip sebelumnya, yaitu ke Kawah Ijen. Kali ini aku mau share tentang KULINER KHAS BANYUWANGI! Pas berangkat dari Malang sih udah excited banget makan makanan khas yang satu ini. Habisnya unik banget dan adanya cuma di Banyuwangi.


RUJAK SOTO
Yey!! Akhirnya bisa coba makanan yang satu ini. Rujak soto adalah perpaduan dua masakan yaitu Rujak uleg dan Soto. Tampilannya kayak gini nih :


Isinya :
- Sayur hijau yang biasa untuk rujak.
- Kecambah.
- Lontong.
- Tempe.
- Daging sejenis babat.
- Dan lain-lain.

Menurut lidah perasa ku, untuk bumbu rujaknya berbeda dengan Rujak uleg yang pernah aku rasakan. Di Malang, bumbu Rujak uleg menggunakan petis untuk campurannya, tapi kalau di Rujak Soto ini tidak. Jadi bumbu rujak langsung dicampur dengan kuah soto dan disajikan bersama kerupuk. Aku gak tau apa memang Rujak uleg disini tanpa petis atau khusus Rujak Soto aja yang tanpa petis.

Harga semangkuk Rujak Soto cukup terjangkau Rp 18.000,-/ porsi. Ini karena aku belinya di resto ya, mungkin kalau kalian beli di warung biasa, harga bisa lebih murah.


NASI BUNGKUS
Ini makanku sebelum balik ke Malang. Berbeda dengan nasi bungkus di Malang dan Surabaya, nasi bungkus ini dibungkus dengan daun pisang. Kalau di Malang atau Surabaya, nasi bungkus dibungkus pakai kertas berwarna coklat khusus untuk makanan. Nasinya yang masih hangat, ditambah aroma daun pisang yang masih segar, hmm, bikin makin nikmat menyantap makanan ini.

Harganya murah banget cuma Rp 5.000,-/bungkus. Ada daging, ayam suwir, ayam pedes, dan nasi campur. Kebetulan aku pilih yang daging, ini dia penampakannya :


Keseluruhan enak + porsinya pas buat aku. Padahal sempet under estimate pasti kurang nih makan sebungkus, eh ternyata makan sebungkus udah kenyang aja. Selain murah, untuk rasanya boleh lah, manis asin gurih gitu deh. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pembeli yang datang ke warung ini. Pas aku makan aja, ada sekitar 3-4 orang yang beli nasi bungkus.


Warung ini juga unik, masih menggunakan Kendi Jawa untuk tempat air minum. Jadi pas minum tuh ada sensasi seger gimana gitu. Gak ngerti kenapa ya, air yang ada didalam kendi itu pasti seger dan adem.


Oiya, warung ini terletak ±20 meter dari Terminal Bus Brawijaya atau orang sekitar menyebutnya dengan Terminal Karangete.

Oke, terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat 😊

08 November 2017

Hai Walkers! Hayo, siapa dari kalian yang suka males bersihin wajah? Kalau iya, berarti kita sama! Aku juga paling maleees banget sama yang namanya bersihin wajah. Apalagi kalau seharian banyak kerjaan, sampai rumah udah capek aja. Terus ketiduran bangun-bangun udah muncul jerawat deh di wajah... Uuugh...

Well, ketemu lagi sama blog ku, sesuai judulnya aku akan membahas salah satu pembersih wajah yang lagi booming di jagad per-makeup-an. Apalagi kalau bukan Micellar Water.


Micellar Water merupakan salah satu varian produk kecantikan ternama yang dianggap “murni” dan memiliki sejarah yang cukup  panjang. Munculnya fenomena micellar water ini berawal di Prancis pada akhir tahun '90-an, saat krisis air bersih melanda kota tersebut. - www.harpersbazaar.co.id

Dalam ulasan Huffington Post, dermatolog Hadley King mengungkapkan, ide awal pembuatan micellar water adalah untuk membantu menghilangkan kotoran dan debu dari kulit tanpa membuat kulit menjadi kering. Jadi micellar water dapat berfungsi sebagai pencuci wajah, penghapus riasan sekaligus pelembap kulit. King merekomendasikan micellar water untuk mereka yang berkulit kering dan sensitif. Karena sifat produk ini lembut dan menjaga kulit terhidrasi dengan baik. - beritagar.id

Pertama kali tau produk Micellar Water itu dari brand Bioderma. Tapi karena harganya yang lumayan menguras dompet, jadi ku urungkan niatku membeli Bioderma. Dan setelah sekian lama, akhirnya kesampaian juga buat coba air ajaib ini. Inilah dia GARNIER MICELLAR CLEANSING WATER.


Price : Rp 27.000,-
Netto : 125ml


Garnier Micellar Cleansing Water hadir dengan dua varian yaitu :
Pink : Kulit normal - sensitif
• Biru : Kulit berminyak cenderung berjerawat.

Kemasannya simpel banget, cukup botol plastik bening dengan tutup berwarna sesuai varian. Jadi memudahkan kita melihat isi produknya. Bentuk produk si Micellar Water ini bening 100% mirip air. 


Oke, gak lama-lama, let's jump to the review! Seharusnya aku beli Micellar Water kemasan biru karena wajahku yang oily tapi karena stok habis ya sudahlah ya, coba yang pink aja gak apa.

Make-up menggunakan :
1. BB Cream + Eyeliner + Lip tint Etude House
2. Pensil alis The Face Shop
3. Mascara Inez
4. Concealer LA. Girl
5. Bedak tabur Venus
6. Eyeshadow Sariayu
7. Sunscreen + Aloevera Gel Wardah


Ini dia perbandingan before - after dibersihkan dengan Garnier Micellar Cleansing Water. Ajaib banget! Hampir semua make-up hilang dalam 1X usap. Aaaa, sepertinya ini akan jadi salah satu benda kesayangan!

Dan sekarang banyak banget produk Micellar Water yang sudah masuk di Indonesia. Ada merk L'Oreal, Maybelline, Nivea, Mineral Botanica, dll.

Kesimpulan :
+ Praktis digunakan
+ Harga terjangkau
+ Mudah ditemukan di toko/supermarket



07 November 2017

Welcome November! What is connecting with November? Scorpio, November rain, Heroes day and what? Oh never mind.


Halaaauu Walkers! Kali ini aku mau share cerita perjalanan ke salah satu tempat yang hanya ada dua di dunia! Seperti judulnya, aku baru aja travelling ke KAWAH IJEN, BANYUWANGI.


Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.443 mdpl - Wikipedia.

Selain menjadi tambang belerang, Kawah Ijen ini terkenal dengan fenomena Blue Fire yang merupakan keajaiban dunia. Fenomena api biru ini terbentuk akibat gas belerang bersuhu tinggi bertemu dengan oksigen. Bayangin cuy, Indonesia punya tempat sekeren ini. Bangga gak sih?


Oh ya, terima kasih sebelumnya kepada Dishub Banyuwangi yang telah mensponsori trip kali ini alias menyediakan trip gratis.


TICKET
Tiket masuk Kawah Ijen ini murah banget, cukup bayar Rp 5.000,-/orang. Parkir motor Rp 5.000,- dan mobil Rp 10.000,-. Hayo, kurang murah apa lagi?



STORY
Aku naik bis Patas Surabaya - Banyuwangi jam 15.10 WIB, sampai di Jember sekitar jam 20.17 WIB terus aku di oper bis sampai dua kali. Dan akhirnya sampai di Terminal Brawijaya (Karangete) jam 00.38 dini hari. Telat 38 menit dari jam yang dijadwalkan =_= Pelajaranku adalah jangan percaya omongan bis Patas! Share cost dan tips naik bis cepat bisa kalian baca disini.

Selain sama Abang, ada Mbak Mala yang jauh-jauh dari Jogja ikut trip Kawah Ijen ini. Dua orang lainnya cancel dan satu blacklist. Sampai di kawasan Ijen sekitar jam 02.10 WIB
Jalan menuju puncaknya asoy ciiind. Aku gak bayangin kalau ternyata jalannya itu nanjak terus. Perjalanan dari loket sampai ke kawah kurang lebih 2 jam. Udah nanjaaaak... sampai puncak harus turuuuuun ke kawah. Udah lelah perjalanan, ditambah mulai lapar, masih juga ada insiden kepleset pasir, haha. Sebel sih, tapi ya lucu juga 😂😂😂

Taraaaaaa...! Ini dia Blue Fire Kawah Ijen, Banyuwangi.






Sempet ngobrol juga dengan Bapak penambang belerang. Beliau hampir setiap hari naik turun Kawah Ijen demi mencukupi kebutuhan keluarga. Tak tanggung-tanggung, Beliau 3-4 kali ke kawah mengambil belerang seberat ±70kg. Bayangin cuy! Bawa beban 70kg dari kawah ke puncak. Ketika ditanya, 'Per kilo nya berapa Pak?' Beliau hanya tersenyum dan menjawab, 'Ya pokoknya cukup untuk keluarga saya.'


Oh ya, setelah baca berita ternyata keberangkatanku ke Kawah Ijen hanya selang satu hari dengan mantan Gubernur Jakarta, Bapak Djarot. Link berita klik disini. Wah, harusnya bisa barengan ya Pak, hehe.

Setelah turun dari Kawah Ijen, kita langsung menuju salah satu resto di Banyuwangi untuk makan Rujak Soto. Yeey, Rujak soto!


Sebelum kembali ke Terminal Brawijaya, sebenarnya kita masih punya trip makan Nasi Lemang, ke Air Terjun Jagir Kampunanyar dan makan nasi pecel Petek. Tapi ke air terjun ini juga ada jalan kakinya, karena sudah capek akhirnya skip aja. Mau makan Nasi Lemang atau Nasi Pecel Petek, Pak Sopir juga gak tau tempatnya. Terus Pak Sopirnya juga kayak pingin cepet-cepet balik, kayak keburu-buru gitu loh. Hmm...


HOMESTAY
Sampai di terminal, Mbak Mala langsung sewa Grab ke SMA Negeri 1 Giri, ke tempat temennya. Sedangkan aku sama Abang langsung cari homestay sekitar terminal karena besoknya mau lanjut trip ke Pulau Merah.


Aku menginap di Cevilla Bed and Breakfast. Deket banget sama terminal, sekitar 15 menit jalan kaki. Ibunya juga ramah banget. Udah mirip rumah sendiri deh. Kamarnya bersih dan wangi. Harga per kamar Rp 130.000,-. Mau booking? Bisa via website Booking.com loh.


Sekitar jam 4 sore ada telepon dari pihak Dishub bilang kalau trip ke Pulau Merah harus diganti trip ke Bangsring Underwater karena bis nya lagi rusak. Haduuh, aku ini paling gak suka yang namanya basah-basah atau mandi di pantai apalagi harus berenang bareng hiu. Yaaa sudahlah lebih baik pulang.


VIDEO
Jangan lupa subscribe, like and comment! 😘


Well, this is my honest review. Aku tulis semua yang aku rasakan #ciyee selama mengikuti trip Kawah Ijen. So, thank you Dishub Banyuwangi.


06 November 2017

Hai Walkers! Sesuai dengan judulnya aku mau share cost perjalanan ke Kawah Ijen kemarin. Langsung aja ya, check this out!


Berangkat Rp 325.000,- dengan rincian :
Bis Lawang - Surabaya (Tentrem)                         : Rp   12.000,-
Bis Patas Surabaya - Banyuwangi (Sabar Indah) : Rp 105.000,-
Jember - Di oper Bis Ekonomi                                  : Rp     5.000,-
Tiket Wisata Kawah Ijen                                           : Rp     5.000,-
Penginapan Cevilla Bed and Breakfast                  : Rp 130.000,-
Rujak Soto                                                                     : Rp   18.000,-
Cemilan beli di Indomart                                          : Rp  50.000,-


Pulang Rp 83.000,- dengan rincian :
Makan Nasi bungkus (Bwi)                  : Rp   5.000,-
Bis Banyuwangi - Probolinggo (Eko)  : Rp 50.000,-
Bis Probolinggo - Malang (Eko)           : Rp 18.000,-
Makan Nasi Kare (Lawang)                 : Rp 10.000,-

TOTAL RP 408.000,-

Note :
1. Ini bisa lebih murah kalau kalian tidak menginap di Homestay.
2. Kalau kalian tidak ikut trip, kalian bisa sewa Jeep dari terminal ke Kawah Ijen dengan harga Rp 600.000,- bisa 7-10 orang.

3. Dan yang paling penting : JANGAN PERCAYA OMONGAN BIS yang bilang Surabaya - Banyuwangi. Itu bullshit!! Duh maaf, udah emosi jiwa. Gara-gara di oper bis dua kali dan nunggu hampir dua jam!

Jadi buat kalian yang dari Malang atau Surabaya mau ke Banyuwangi, jangan naik Patas ya. Malang - Banyuwangi atau Surabaya - Banyuwangi itu gak ada. Jadi aku sarankan kalian ambil : Surabaya - Probolinggo lalu dari Probolinggo baru naik bis jurusan Banyuwangi. Pasti dapat bis kok. Bis ada sampai jam 9 malam (pengalamanku). Jauh lebih murah dan gak di oper kesana-kemari. Begitu juga yang dari Malang ya :)

Okaaay, terima kasih sudah mampir di blog ku. Kalau ada pertanyaan bisa langsung DM instagram @ichii_holmesz , semoga bermanfaat.


Jangan lupa subscribe, like and comment!



27 October 2017

Hai Walkers! Kemarin aku berkesempatan untuk nonton film Negeri Dongeng. Pertama kali perkenalan film ini, sebenernya aku pengen nonton, tapi waktu sungguh tak bersahabat. Pemutaran di Surabaya aku gak bisa nonton karena ada pesanan catering yang membludak. Pemutaran pertama di Malang pun gak bisa datang karena gak ada temennya. Mau naik angkot pun gak bisa karena jam pemutaran film malam hari.



TIKET
Tiket nonton kali ini Rp 25.000,-/orang. Bisa di beli secara umum di bioskop tertentu. Beda dengan sebelumnya yang harus reservasi via Whatsapp dulu sebelum menonton.



SINOPSIS
Film besutan sutradara Anggi Frisca ini termasuk jenis film dokumenter. Film ini mengisahkan 7 pendaki tanah air yang menggapai 7 puncak tertinggi di Indonesia. Mereka adalah Anggi Frisca (Sutradara), Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Jogie KM. Nadeak, Yohanes Pattiasina, Wihana Erlangga dan dr. Chandra Sembiring (Produser). Film ini tidak hanya mengulas tentang pencapian 7 puncak tertinggi Indonesia, namun juga bercerita tentang kearifan lokal, cerita penduduk di kaki gunung yang jauh dari hiruk pikuk kota, perjalanan darat, laut dan udara para pendaki ini.


Beberapa ekspeditor yang ikut berperan dalam film ini adalah Nadine Chandrawinata (Cartenz Pyramid Papua), Darius Sinathrya (Gunung Binaiya Ambon), Medina Kamil (Gunung Bukit Raya Kalimantan), Djukardi “Bongkeng” Adriana (Gunung Rinjani Lombok), Alfira “Abex” Naftaly (Gunung Latimojong Sulawesi) dan Matthew Tandioputra (Gunung Semeru Jawa Timur). 

Bagaimana kisah mereka menggapai 7 puncak tertinggi Indonesia?
Sanggupkah mereka melawan ego dalam diri masing-masing?
Sanggupkah mereka bergotong-royong mencapai tujuan?


Jangan lupa, saksikan di bioskop terdekat di kota kalian ya!


REVIEW
Aku puas dengan film ini. Film ini tidak hanya menunjukkan bagaimana senang dan bahagianya berada di puncak-puncak gunung tertinggi Nusantara.
✔ Tidak menunjukkan scene 'selfie cantik' alias gaya-gaya membahayakan saat di puncak sebagaimana film sebelah.
✔ Mereka menekankan gotong-royong dalam pendakian.
✔ Mereka menekankan safety dalam pendakian.
✔ Mereka melakukan persiapan yang matang.
✔ Memberikan ilmu untuk meminimalisir membawa sampah di gunung.
✔ Menggali informasi dan berbincang dengan penduduk lokal.

Mereka juga menegaskan bahwa MENDAKI GUNUNG ITU GAK GAMPANG. Butuh persiapan matang, mulai keuangan, logistik, fisik juga mental kalian.


Ada satu scene yang aku ngrasa kena banget! Scene pas AIR MINUM MEREKA HABIS! Ini sumpah ngena banget! Karena pas pendakian kami, Minus Family, ke Gunung Merbabu, bisa kalian baca disini kami juga menghalami hal yang sama. Air kami sungguh amat sangat sedikit, but Allah help us! Nature help us! We found two bottle of water in underbrush.

Semoga para pendaki baru atau siapapun yang mau mendaki gunung, HARUS MEMPERSIAPKAN segalanya terlebih dahulu. Gunung bukan tempat bermain. Gunung adalah alam yang sewaktu-waktu bisa berubah cuaca dan kondisinya. Kita adalah tamu. 

Oh ya, selesai menonton, aku mendapatkan oleh-oleh lo, ada sricker dan kartu pos.


Dan, terakhir, SAYA CINTA ALAM INDONESIA :)

23 October 2017

Halaaauuuu Walkers! Setelah mengulas perjalanan dari Ranu Kumbolo (baca disini), aku akan bercerita sedikit tentang Ranu Pani. Nama Desa sekaligus nama danau yang satu kawasan dengan Ranu Kumbolo.


Cuit cuiiit, cantikkan danau nya? Aku sendiri pun tercengang dengan keindahannya.

Loh kok bisa tercengang?

Loh kok bisa pangling sama Ranu Pani?

Padahal kan udah 3X ke Ranu Kumbolo.

Sebelum memiliki paras bersih nan ayu ini, Ranu Pani dipenuhi oleh tumbuhan air kiambang atau Salvinia molesta dan sejenis eceng gondok lainnya.

Pertama kali kesini tahun 2014, hampir seluruh danau tertutup tumbuhan air. Hanya 1-2 pendaki atau bahkan tak ada yang melirik Ranu Pani. Aku sendiri pun dulunya hanya 'Oh ini Ranu Pani' tapi sekarang, setiap pendaki yang ke Ranu Kumbolo atau Mahameru, pasti menyempatkan diri untuk menikmati indahnya Ranu Pani dari Basecamp.

Ini semua berkat para Saver, relawan, penggiat alam, instansi terkait dan warga sekitar yang sadar akan eksistensi danau tersebut. Mereka mengupayakan agar Ranu Pani tetap asri dan bisa digunakan sebagai mana mestinya.

Pengen view kayak gini? Dateng dong kesini 😉

So, enjoy the view. Take nothing but pictures. Leave nothing but foot print. Kill nothing but time.

Thank you ~


Categories

Blog Archive

Instagram

Popular Posts

Viewers